mail@lppdjatim.org +6281235081926

Konsep Trinitas Kristen Perspektif Kiai Abul Fadhol Senori

Konsep keesaan Tuhan menjadi sajian utama dalam ilmu Kalam; bahwa Allah SWT memiliki sifat wahdâniyah. Hal ini menjadi konsep yang disepakati oleh para perumus teologi Asy’ariah dan Maturudiah yang tercermin dalam karya-karya ulama lintas masa. Hal ini berbanding terbalik dengan konsep Trinitas agama Kristen yang dalam doktrinnya menyatakan bahwa Tuhan berupa aradh (atribut) yang bisa melekat pada Tuhan Bapa, Tuhan Putra (Yesus), dan Roh Kudus.

Ada seorang ulama Nusantara, yaitu Kiai Abul Fadhol atau akrab dipanggil Mbah Fadhol, yang menulis terkait hal ini. Beliau merupakan seorang kiai cum akademisi asal Senori, Tuban, Jawa Timur yang sangat produktif dalam menulis semasa hidupnya. Mbah Fadhol selain ahli dalam berbagai cabang (fan) ilmu agama, juga menekuni ilmu sejarah. Beliau berpandangan bahwa kredo Trinitas kurang sesuai—bahkan terkesan kontradiktif—dengan ajaran awal Kristen jika melihat dari sejarahnya sendiri.

Seturut dengan di atas, tulisan ini berusaha menyajikan kritikan Mbah Fadhol terhadap konsep Trinitas Kristen. Namun sebelum itu, penulis berupaya memaparkan konsep Trinitas ini secara singkat. Harapannya, pembaca dapat memiliki sedikit gambaran tentang konsep ini terlebih dahulu. Adapun sistematika tulisan akan dibagi menjadi dua pembahasan. Pembahasan pertama akan menyajikan konsep Trinitas Kristen dan sejarah singkatnya. Pembahasan kedua akan memuat kritikan-kritikan Mbah Fadhol terhadap konsep ini. Kedua pembahasan tersebut akan penulis uraikan secara deskriptif-analitis melalui pendekatan yang kritis.

Konsep Trinitas Kristen

Trinitas Kristen adalah ajaran dalam Kristen yang meyakini adanya tiga tuhan, yaitu Tuhan Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Ketiganya merupakan entitas yang berbeda tetapi menjadi satu kesatuan yang harmonis sejak awal, atau biasa mereka sebut sebagai Tritunggal Allah SWT. Injil Yohanes, salah satu sumber teks Alkitab, yang memberikan gambaran mendalam mengenai konsep ini, menegaskan bahwa ketiganya merupakan kesatuan yang memiliki peran masing-masing. Pada intinya, dalam Injil Yohanes, Tuhan Bapa, Putra, dan Roh Kudus semuanya menyatu dalam kerangka kasih dan tujuan keselamatan. Bapa merencanakan dan memulai; Putra menjalankan dan memenuhi; dan Roh Kudus mengungkapkan dan mengaplikasikan. Dalam konteks kekinian, ketiga pribadi dalam Tritunggal Allah—menurut keyakinan mereka—bekerja bersama-sama dalam harmoni sempurna untuk mewujudkan tujuan utama, yaitu keselamatan manusia dan kemuliaan Allah itu sendiri.[1]

Dalam agama Kristen sendiri terdapat banyak sekali perbedaan pendapat tentang konsep ketuhanannya. Apakah Yesus itu zat Tuhan yang menyatu dalam dirinya atau sifat Tuhan yang masuk ke dalam dirinya?[2] Konsep Trinitasmenurut Mbah Fadholyang dianut dalam Kristen merupakan asas dan rukun agama. Ia dikembangkan dari filsafat Helenestik dan Gnostik. Orang pertama yang memakai kata trias (dalam bahasa Yunani) adalah seorang uskup dari Antiokia, Turki, bernama Topilos. Kemudian, kata tersebut berkembang dan berubah menjadi kata Trinitas.

Konsili Nikea tahun 325 M menyatakan bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Selanjutnya, pada Konsili Konstantinopel tahun 381 M, Roh Kudus dan Yesus dinyatakan sama dengan Bapa dalam hal ketuhanan, kendati keduanya muncul dari Bapa. Adapun Konsili Talitolia di Kapadokia, Turki tahun 589 M menetapkan bahwa Roh Kudus muncul dari Yesus.[3] Dalam perkembangan selanjutnya, lahir mazhab-mazhab di Kristen yang meliputi Modernis (Evangelis), Fundamentalis, Kaum Mistis, Kristen Saintis hingga Biblikal.

Kritik Kiai Fadhol terhadap Konsep Trinitas Kristen

Kiai Abul Fadhol melayangkan kritiknya terhadap konsep Trinitas Kristen dalam kitabnya, ad-Dur al-Farîd. Di dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan dua tokoh filsuf dunia, yaitu Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman dan Leo Tolstoy, filsuf kenamaan Uni Soviet. Mbah Fadhol mengutip pernyataan Immanuel Kant, yaitu “Tuhan Bapa, Tuhan Putra, dan Roh Kudus sebenarnya adalah atribut inti ketuhanan. Ketiganya merupakan simbol tentang Kuasa, Hikmah dan Cinta.” Dalam bukunya Religion and Rational Theology, Kant juga mengatakan bahwa “Doktrin Trinitas secara literal tidak memiliki relevasi praktis sama sekali, bahkan jika kita memahaminya”.[4]

Selanjutnya, Mbah Fadhol mengutip tulisan Leo Tolstoy tentang kritiknya terhadap Injil-injil Kristen yang beredar. Tolstoy menyatakan, “Pembaca tidak boleh lupa bahwa termasuk kesalahan fatal dan kebohongan, jika mengatakan bahwa empat Injil yang beredar dianggap sebagai kitab suci. Ini diperkuat bahwa Yesus tidak pernah menulis apapun. Yesus kebetulan mengajar kaum yang keras kepala dan bodoh seperti yang terekam dalam Injil-injil itu; para penulisnya sama sekali tak memahami apa yang ditulis. Injil-Injil itu ditulis 100-200 tahun pasca Yesus.”[5]

Mbah Fadhol mengkritik bahwasanya doktrin tentang sifat Tuhan yang saat ini menjadi konsensus umat Nasrani tidak pernah diungkap dalam buku perjanjian lama, bahkan dalam Kitab Kejadian pun tidak ada. Dengan demikian, kredo tradisional Kristen  yang menyatakan Yesus sebagai Putra Allah dipastikan dusta. Walaupun dalam Injil Matius tertulis, “Atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” hal itu tidak bisa dipahami bahwa ketiganya memiliki hakikat yang sama, Bahkan, tak ada indikasi dalam Bibel, bahwa ketiganya bekerja sama. Paham bahwa Bapa adalah Putra, atau Putra adalah Bapa itu salah. Adapun yang benar, Bapa adalah pencipta segalanya.

Penyebutan "Putra" dan "Roh Kudus" dalam Perjanjian Lama maupun Baru tidak sinkron dengan keyakinan Kristen saat ini. Dalam surat yang ditulis kepada Korintos, Paulus mengatakan, "Nikmat Tuhan kita, Yesus Al-Masîh, cinta Allah dan kebersamaan Roh Kudus bersama mereka." Dari surat inilah, Paulus ditengarai sebagai peletak batu pertama kredo Nasrani, termasuk Trinitas yang eksis hingga saat ini. Padahal dalam Mazmur tertulis, "Dengan kalimat Tuhan, diciptakanlah langit-langit..." Hal ini menandakan tidak ada isyarat sedikitpun tentang kredo Trinitas. Penafsiran kata "kalimat" dengan "Yesus" disebut dalam Injil Yohanes. Pemahaman semacam ini tidak dikenal bahkan sejak masa Nabi Daud maupun nabi lain dari bangsa Yahudi. Yohanes sendiri adalah murid Paulus. Sementara, surat-surat Paulus yang dikirim ke bangsa Ibrani juga tak menyimpan indikasi pemahaman seperti ini.[6]

Menjadikan kata "putra" dalam Pasal III dalam Kitab Danial sebagai kredo terlihat sangat aneh. Sebab, ia justru dikutip sebagai pengakuan keimanan. Raja Babylonia, Nebukad Nezar yang menganut paganisme, pernah menghukum pengikut Yesus dengan cara membakarnya, tetapi ia tidak terbakar. Kemudian dia berkata, "Saya melihat orang keempat mirip dengan putra dewa-dewa." Dengan demikian, menjadikan ucapan seorang penganut Paganisme sebagai penguat argumentasisebagaimana yang dilakukan umat Kristenâbahwa Yesus adalah "Putra" adalah kontradiktif.[7]

Jika ada yang berkata, "Trinitas sudah diungkap secara implisit dalam Perjanjian Lama," maka sebenarnya tidak ditemukan ungkapan itu sama sekali, baik secara tekstual, eksplisit, implisit, maupun metaforis. Akidah sebenarnya, sebagaimana para nabi sebelum Yesus, mengajak pada tauhid (monoteisme). Dalam ajaran para rasul, tidak ada yang tidak jelas, terutama yang berkaitan dengan asas agama. Monoteisme sendiri hadir untuk memerangi Paganisme yang berkembang di masa para rasul. Penyelewengan keimanan Nasrani, pada awalnya, terjadi di masa Paulus dan Yohanes yang telah menafsirkan Injil secara menyimpang dari ajaran tauhid para rasul.[8]

Sebagai kesimpulan, kita memiliki banyak literatur karya ulama nusantara zaman dahulu dengan gagasan dan keilmuan yang luar biasa. Hal itu mungkin dapat memberikan banyak pandangan baru bagi kita, seperti kitab ad-Dur al-Farîd yang ditulis oleh Mbah Fadhol kurang lebih setengah abad yang lalu.

Mbah Fadhol memiliki pemahaman yang sangat luas, tidak hanya dalam lingkup ajaran agama Islam saja. Hal itu dibuktikan, di antaranya, dengan paparan sejarah ajaran agama Kristen serta pembacaannya atas pemikiran Immanuel Kant dan Leo Tolstoy dalam kitab beliau, ad-Dur al-Farîd yang mensyarah kitab Jauharoh at-Tauhîd karya al-Laqqâni.

Penulis sadar bahwa tulisan ini masih terdapat banyak hal yang perlu digali lebih dalam. Penulis berharap, adanya tulisan ini dapat menjadi pintu gerbang bagi kita untuk membaca dan menganalisis literatur yang lebih dalam, terutama perihal kredo Kristen ini.

 

 

 

Daftar Pustaka 

Fadhol, Abul. Ad-Dur al-Farîd fi Syarhi Juharoh at-Tuhîd.

Al-Îji, Abdurrahman. Al-Mawâqif fi Ilmi al-Kalâm. Kairo, Al-Mutanabbi.

Kant, Immanuel. 2001. Religion and Rational Theology. USA: Cambridge University Press.

Cholil, Abdul Mun’im. 2023. Melihat Tuhan ala Senori. Depok: Safiha.

Pabisa, Djonny, Pratiwi Eunike, dan Lista Valentina. 2024. Analisis Konsep Tritunggal Alloh dan Implikasinya berdasarkan Injil Yohanes, Journal of Religious and Socio-Cultural, Vol.5, No.1.

 



[1] Djonny Pabisa, Pratiwi Eunike, dan Lista Valentina, “Analisis Konsep Tritunggal Alloh dan Implikasinya berdasarkan Injil Yohanes,” Journal of Religious and Socio-Cultural, Vol.5, No.1 (2024)., h. 1-22.

[2] Abdurrahman al-Îji, Al-Mawâqif fi Ilmi al-Kalâm,(Kairo, Al-Mutanabbi)., h. 275.

[3] Abul Fadhol, Ad-Dur al-Farîd fi Syarhi Juharoh at-Tuhîd., h. 105.

[4] Immanuel Kant, Religion and Rational Theology. (USA: Cambridge University Press, 2001)., h. 264.

[5] Abul Fadhol, Ad-Dur al-Farîd fi Syarhi Juharoh at-Tuhîd., h. 103-104.

[6] Abdul Mun’im Cholil, Melihat Tuhan ala Senori, (Depok: Safiha, 2023)., h. 79.

[7] Abdul Mun’im Cholil, Melihat Tuhan ala Senori, (Depok: Safiha, 2023)., h. 80.

[8] Abdul Mun’im Cholil, Melihat Tuhan ala Senori, (Depok: Safiha, 2023)., h. 81.

 

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Hubungi Kami ?