Konsep keesaan Tuhan menjadi sajian
utama dalam ilmu Kalam; bahwa Allah SWT memiliki sifat wahdâniyah. Hal
ini menjadi konsep yang disepakati oleh para perumus teologi Asy’ariah dan
Maturudiah yang tercermin dalam karya-karya ulama lintas masa. Hal ini
berbanding terbalik dengan konsep Trinitas agama Kristen yang dalam doktrinnya
menyatakan bahwa Tuhan berupa ‘aradh (atribut) yang bisa melekat pada Tuhan
Bapa, Tuhan Putra (Yesus), dan Roh Kudus.
Ada seorang ulama Nusantara, yaitu Kiai Abul Fadhol atau akrab dipanggil Mbah Fadhol, yang
menulis terkait hal ini. Beliau merupakan seorang kiai cum akademisi asal
Senori, Tuban, Jawa Timur yang sangat produktif dalam menulis semasa hidupnya.
Mbah Fadhol selain ahli dalam berbagai
cabang (fan) ilmu agama, juga menekuni ilmu sejarah. Beliau berpandangan bahwa
kredo Trinitas kurang sesuai—bahkan terkesan kontradiktif—dengan ajaran awal
Kristen jika melihat dari sejarahnya sendiri.
Seturut dengan di atas, tulisan ini
berusaha menyajikan kritikan Mbah Fadhol terhadap konsep Trinitas Kristen.
Namun sebelum itu, penulis berupaya
memaparkan konsep Trinitas
ini secara singkat. Harapannya, pembaca dapat memiliki sedikit
gambaran tentang konsep ini terlebih dahulu. Adapun sistematika tulisan akan
dibagi menjadi dua pembahasan. Pembahasan pertama akan menyajikan konsep
Trinitas Kristen dan sejarah singkatnya. Pembahasan kedua akan memuat
kritikan-kritikan Mbah Fadhol terhadap konsep ini. Kedua pembahasan tersebut akan penulis uraikan secara deskriptif-analitis melalui pendekatan
yang kritis.
Konsep Trinitas Kristen
Trinitas Kristen adalah ajaran dalam
Kristen yang meyakini adanya tiga tuhan, yaitu Tuhan Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Ketiganya merupakan entitas yang berbeda
tetapi menjadi satu kesatuan yang harmonis sejak awal, atau biasa mereka sebut
sebagai Tritunggal Allah SWT. Injil Yohanes, salah satu sumber teks Alkitab, yang
memberikan gambaran mendalam mengenai konsep ini, menegaskan bahwa ketiganya
merupakan kesatuan yang memiliki peran masing-masing. Pada intinya, dalam Injil
Yohanes, Tuhan Bapa, Putra, dan Roh Kudus semuanya menyatu dalam kerangka kasih dan tujuan keselamatan. Bapa
merencanakan dan memulai; Putra menjalankan dan memenuhi; dan Roh Kudus
mengungkapkan dan mengaplikasikan. Dalam konteks kekinian, ketiga pribadi dalam
Tritunggal Allah—menurut keyakinan mereka—bekerja bersama-sama dalam harmoni
sempurna untuk mewujudkan tujuan utama, yaitu keselamatan manusia dan kemuliaan
Allah itu sendiri.[1]
Dalam agama Kristen sendiri terdapat banyak sekali perbedaan pendapat tentang konsep
ketuhanannya. Apakah Yesus itu zat Tuhan yang
menyatu dalam dirinya atau sifat Tuhan yang masuk ke dalam dirinya?[2]
Konsep Trinitas-menurut Mbah Fadhol-yang dianut dalam
Kristen merupakan asas dan rukun agama. Ia dikembangkan dari filsafat
Helenestik dan Gnostik. Orang pertama yang memakai kata trias (dalam bahasa Yunani) adalah seorang uskup dari
Antiokia, Turki, bernama Topilos. Kemudian, kata
tersebut berkembang dan berubah menjadi kata Trinitas.
Konsili Nikea tahun 325 M menyatakan
bahwa Yesus adalah anak Tuhan. Selanjutnya, pada Konsili Konstantinopel tahun
381 M, Roh Kudus dan Yesus dinyatakan sama dengan Bapa dalam hal ketuhanan,
kendati keduanya muncul dari Bapa. Adapun Konsili Talitolia di Kapadokia, Turki tahun 589 M menetapkan bahwa Roh Kudus muncul dari
Yesus.[3]
Dalam perkembangan selanjutnya, lahir mazhab-mazhab di Kristen yang meliputi Modernis (Evangelis), Fundamentalis,
Kaum Mistis, Kristen Saintis hingga Biblikal.
Kritik Kiai Fadhol terhadap Konsep
Trinitas Kristen
Kiai Abul Fadhol melayangkan kritiknya
terhadap konsep Trinitas Kristen dalam kitabnya, ad-Dur al-Farîd. Di dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan
dua tokoh filsuf dunia, yaitu Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman dan Leo
Tolstoy, filsuf kenamaan Uni Soviet. Mbah Fadhol mengutip pernyataan
Immanuel Kant, yaitu “Tuhan Bapa, Tuhan Putra, dan Roh Kudus sebenarnya adalah atribut inti ketuhanan.
Ketiganya merupakan simbol tentang Kuasa, Hikmah dan Cinta.” Dalam bukunya Religion and Rational
Theology, Kant juga mengatakan bahwa “Doktrin Trinitas secara literal tidak memiliki relevasi praktis sama sekali, bahkan jika
kita memahaminya”.[4]
Selanjutnya, Mbah Fadhol mengutip
tulisan Leo Tolstoy tentang kritiknya terhadap Injil-injil Kristen yang beredar. Tolstoy menyatakan, “Pembaca tidak boleh lupa
bahwa termasuk kesalahan fatal dan kebohongan, jika mengatakan bahwa empat
Injil yang beredar dianggap sebagai kitab suci. Ini diperkuat bahwa Yesus tidak
pernah menulis apapun. Yesus kebetulan mengajar kaum yang keras kepala dan
bodoh seperti yang terekam dalam Injil-injil itu; para penulisnya sama sekali
tak memahami apa yang ditulis. Injil-Injil itu ditulis 100-200 tahun pasca
Yesus.”[5]
Mbah Fadhol mengkritik bahwasanya doktrin
tentang sifat Tuhan yang saat ini menjadi konsensus umat Nasrani tidak pernah
diungkap dalam buku perjanjian lama, bahkan dalam Kitab Kejadian pun tidak ada.
Dengan demikian, kredo tradisional Kristen
yang menyatakan Yesus sebagai Putra Allah dipastikan dusta.
Walaupun dalam Injil
Matius tertulis, “Atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” hal itu tidak bisa
dipahami bahwa ketiganya memiliki hakikat yang sama, Bahkan, tak ada indikasi dalam Bibel,
bahwa ketiganya bekerja sama. Paham bahwa Bapa adalah Putra, atau Putra adalah Bapa itu salah. Adapun yang benar, Bapa adalah pencipta segalanya.
Penyebutan "Putra" dan
"Roh Kudus" dalam Perjanjian Lama maupun Baru tidak sinkron dengan
keyakinan Kristen saat ini. Dalam surat yang ditulis kepada
Korintos, Paulus mengatakan, "Nikmat Tuhan kita, Yesus
Al-Masîh, cinta Allah dan kebersamaan Roh Kudus bersama mereka." Dari
surat inilah, Paulus ditengarai sebagai peletak batu pertama kredo Nasrani,
termasuk Trinitas yang eksis hingga saat ini. Padahal dalam Mazmur
tertulis, "Dengan
kalimat Tuhan, diciptakanlah langit-langit..." Hal ini menandakan tidak ada isyarat
sedikitpun tentang kredo Trinitas. Penafsiran kata "kalimat"
dengan "Yesus" disebut dalam Injil Yohanes. Pemahaman semacam ini tidak dikenal bahkan sejak masa Nabi Daud maupun nabi lain
dari bangsa Yahudi. Yohanes sendiri adalah murid Paulus. Sementara, surat-surat
Paulus yang dikirim ke bangsa Ibrani juga tak menyimpan indikasi pemahaman
seperti ini.[6]
Menjadikan kata "putra" dalam
Pasal III dalam Kitab Danial sebagai kredo terlihat sangat aneh. Sebab, ia
justru dikutip sebagai pengakuan keimanan. Raja Babylonia, Nebukad Nezar yang
menganut paganisme, pernah menghukum pengikut Yesus dengan cara membakarnya,
tetapi ia tidak terbakar. Kemudian dia
berkata, "Saya
melihat orang keempat mirip dengan putra dewa-dewa." Dengan demikian, menjadikan ucapan seorang penganut Paganisme sebagai penguat argumentasi-sebagaimana yang dilakukan umat Kristenâ—bahwa Yesus adalah "Putra"
adalah kontradiktif.[7]
Jika ada yang berkata, "Trinitas
sudah diungkap secara implisit dalam Perjanjian Lama," maka sebenarnya
tidak ditemukan ungkapan itu sama sekali, baik secara tekstual, eksplisit,
implisit, maupun metaforis. Akidah sebenarnya, sebagaimana para nabi sebelum
Yesus, mengajak pada tauhid (monoteisme). Dalam ajaran para rasul, tidak ada yang tidak jelas, terutama yang berkaitan dengan
asas agama. Monoteisme sendiri hadir untuk memerangi Paganisme yang berkembang di masa para rasul. Penyelewengan keimanan
Nasrani, pada awalnya, terjadi di masa Paulus dan Yohanes yang telah
menafsirkan Injil secara menyimpang dari ajaran tauhid para rasul.[8]
Sebagai kesimpulan, kita memiliki
banyak literatur karya ulama nusantara zaman dahulu dengan gagasan dan keilmuan
yang luar biasa. Hal itu mungkin dapat memberikan banyak pandangan baru bagi
kita, seperti kitab ad-Dur al-Farîd yang ditulis oleh Mbah Fadhol kurang
lebih setengah abad yang lalu.
Mbah Fadhol memiliki pemahaman yang
sangat luas, tidak hanya dalam lingkup ajaran agama Islam saja. Hal itu
dibuktikan, di antaranya, dengan paparan sejarah ajaran agama Kristen serta
pembacaannya atas pemikiran Immanuel Kant dan Leo Tolstoy dalam kitab beliau, ad-Dur
al-Farîd yang mensyarah kitab Jauharoh at-Tauhîd karya al-Laqqâni.
Penulis sadar bahwa tulisan ini masih terdapat banyak hal
yang perlu digali lebih dalam. Penulis berharap, adanya tulisan ini dapat
menjadi pintu gerbang bagi kita untuk membaca dan menganalisis literatur yang
lebih dalam, terutama perihal kredo Kristen ini.
Daftar Pustaka
Fadhol, Abul. Ad-Dur al-Farîd fi Syarhi Juharoh at-Tuhîd.
Al-Îji, Abdurrahman. Al-Mawâqif fi ‘Ilmi al-Kalâm. Kairo, Al-Mutanabbi.
Kant, Immanuel. 2001. Religion and Rational Theology. USA: Cambridge University Press.
Cholil, Abdul Mun’im. 2023. Melihat Tuhan ala Senori. Depok:
Safiha.
Pabisa, Djonny, Pratiwi Eunike, dan
Lista Valentina. 2024. Analisis Konsep Tritunggal Alloh dan Implikasinya
berdasarkan Injil Yohanes, Journal of Religious and Socio-Cultural, Vol.5,
No.1.
[1] Djonny
Pabisa, Pratiwi Eunike, dan Lista Valentina, “Analisis Konsep Tritunggal
Alloh dan Implikasinya berdasarkan Injil Yohanes,” Journal of Religious and
Socio-Cultural, Vol.5, No.1 (2024)., h. 1-22.
[2] Abdurrahman al-Îji, Al-Mawâqif fi Ilmi al-Kalâm,(Kairo, Al-Mutanabbi)., h. 275.
[3] Abul Fadhol, Ad-Dur al-Farîd fi Syarhi Juharoh at-Tuhîd., h. 105.
[4] Immanuel Kant, Religion and Rational
Theology. (USA: Cambridge University Press,
2001)., h. 264.
[5] Abul Fadhol, Ad-Dur al-Farîd fi Syarhi Juharoh at-Tuhîd., h. 103-104.
[6] Abdul Mun’im Cholil, Melihat Tuhan
ala Senori, (Depok: Safiha, 2023)., h. 79.
[7] Abdul Mun’im Cholil, Melihat Tuhan
ala Senori, (Depok: Safiha, 2023)., h. 80.
[8] Abdul Mun’im Cholil, Melihat Tuhan
ala Senori, (Depok: Safiha, 2023)., h. 81.

0 Komentar