mail@lppdjatim.org +6281235081926

Islam Sebagai Penengah antara Generasi Milenial dan Gen Z

Perguliran zaman yang tak dapat dielakkan menuntut akan adanya sebuah perubahan pada segala aspek kehidupan. Manusia sebagai pelaku utama dalam menjalankan tatanan kehidupan tidak luput dari perubahan tersebut. Generasi baru akan menggantikan generasi lama yang mengalami penurunan baik raga maupun jiwa. Hal tersebut merupakan cara kerja alam yang sudah semestinya terjadi.


Kesadaran akan adanya sebuah pergantian ini harusnya menjadi ajang kolaborasi antara generasi sebelumnya dengan generasi setelahnya. Karena bagaimanapun, estafet kepemimpinan akan terus berpindah. Namun dewasa ini, kita sering menjumpai ketimpangan antara keduanya. Generasi milenial, sebagai senior yang telah memegang tatanan kehidupan terlebih dahulu, acap bersinggungan dengan Gen-Z sebagai generasi yang masih minim akan tanggung jawab tersebut.


Generasi milenial yang lahir pada periode tahun 1977-1995 memiliki karakteristik berbeda dibanding dengan Gen-Z yang lahir pada rentang tahun 1996-2010.[1] Penggolongan generasi berdasarkan tahun lahir bukanlah satu-satunya aspek yang membuat mereka berbeda. Peninjauan terhadap sosio-sejarah juga harus menjadi alat tinjau terhadap perbedaan yang timbul dari keduanya.


Seseorang yang terlahir di tahun 2000-an namun memiliki sosio-historis yang berbeda dengan orang-orang sezamannya, tidak bisa disamakan karakteristiknya dengan mereka. Pun begitu dengan lingkungan pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk sosial media tidak bisa disamakan dengan lingkungan perkotaan yang serba bergantung kepadanya. Oleh karena itu pengeneralisasian terhadap suatu generasi merupakan suatu kesalahan.[2]


Pertentangan antara dua generasi tersebut sering kali kita jumpai di Indonesia. Generasi milenial sering menganggap sesuatu yang diunggah oleh Gen-Z diindikasikan sebagai hal yang negatif. Curhatan yang disampaikan mereka biasanya menimbulkan prasangka bahwa Gen-Z adalah generasi yang lemah, labil, dan menginginkan suatu secara cepat (instan).[3]


Faktor Pembentuk Karekter dan Dampaknya

Penilaian negatif oleh generasi milenial terhadap Gen-Z yang seakan memiliki mental tempe tidak dapat sepenuhnya dibenarkan. Hal tersebut dikarenakan semua generasi memiliki keunikannya masing-masing. Keunikan tersebut disebabkan oleh faktor eksternal sebagai pembentuk karakter yang berbeda dari zaman ke zaman, seperti halnya faktor adanya sosial media.


Penggunaan sosial media yang mudah diakses oleh semua orang menimbulkan terjadinya pertukaran informasi yang sangat cepat. Seorang individu terkadang dapat mengungkapkan perasaannya kepada semua orang dengan hanya hitungan detik lewat akun yang ia miliki. Tentunya, hal tersebut memancing hasrat Gen-Z untuk mencurahkan perasaanya di sosial media.


Adanya media untuk mencurahkan perasaan juga dapat membuka celah bagi generasi milenial untuk menghakimi perilaku Gen-Z. Sebenarnya, perkembangan teknologi yang membanjiri otak kita dengan informasi membuat kita acap terburu-buru dalam menilai sesuatu. Sehingga terkadang, hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan malah kita amini. Dunia maya dengan segala tipu dayanya tidak bisa kita yakini sebagai satu-satunya sumber informasi yang valid.


Banyaknya informasi yang berlainan juga membuat Gen-Z memiliki karakter yang labil. Kehadiran teknologi di saat kelahiran Gen-Z tidak memberikan waktu kepada mereka untuk beradaptasi dengan baik. Berbeda halnya dengan generasi milenial yang terlahir pada saat teknologi belum secanggih sekarang.


Tidaknya adanya saling pengertian antara keduanya dapat menimbulkan ketidaksenangan terhadap perilaku masing-masing generasi. Di mana generasi milenial akan terus mengomentari sifat dari Gen-Z selama mereka tetap menjadikan sosial media sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan. Di sisi lain, Gen-Z akan terus mengaggap generasi milenial sebagai generasi yang kolot sebab penyampaian mereka yang kurang baik.


Bagaimana Islam Menyikapi Problematika ini?

Keberhasilan instan yang ingin dicapai Gen-Z merupakan suatu yang seharusnya membuka peluang baru bagi peradaban berikutnya. Generasi milenial sepatutnya dapat memfasilitasi mereka dengan bimbingan yang tepat sesuai kebutuhan mereka. Berdasarkan hal tersebut, seharusnya perbedaan di antara mereka dapat direspons dengan baik apabila agama juga diikutsertakan di dalamnya.


Penelitian yang dilakukan oleh  Christene  Schliesser[4] menunjukkan bahwasanya agama diyakini sebagai penunjang keberhasilan sebuah pembangunan yang berkelanjutan. Sebagai kontrol diri, agama dapat mempersatukan sebuah perbedaan yang terdapat dalam sebuah kelompok. Hal tersebut dibuktikan oleh sejarah, di mana agama memiliki peran yang signifikan dalam membangun peradaban manusia sehingga ia menjadi lebih dinamis.[5]


Kebutuhan seseorang terhadap agama dalam hubungan antarsesama bisa dilihat dari segi andilnya dalam mengatur tatanan hidup bersosial. Tidak ada satupun agama yang memerintahkan penganutnya agar menyakiti dan merugikan orang lain. Perbedaan ideologis dalam agama tidak akan merusak asas kemaslahatan bersama tersebut.


Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia tidak mengajarkan kejumudan dalam beragama sebagaimana hadis Nabi yang melazimkan adanya pembaharuan.[6] Hal tersebut tentunya harus disandarkan pada kebutuhan manusia dengan memperhatikan situasi dan kondisi. Penetapan aturan maupun metode secara stagnan dapat menimbulkan masalah, bukannya maslahat.


Oleh sebab itu generasi milenial yang secara tidak langsung menjadi guru dari Gen-Z seharusnya juga sadar bahwa pendidikan yang diterapkan di zamannya mungkin saja tidak relevan lagi. Perlu adanya inovasi dan kreativitas dalam membimbing generasi penerus mereka. Selain itu, cara penyampaian ilmu terhadap Gen-Z juga tidak bisa disamakan dengan pendidikan yang mereka dapatkan di masa lampau.


Dengan mengenali karakter yang dimiliki Gen-Z, seharusnya generasi milenial dapat menjadi lebih kreatif dan inovatif. Kekurangan Gen-Z seharusnya dapat dilengkapi oleh pengetahuan yang dimiliki oleh generasi milenial. Sebagai contoh adalah Felix Siauw ketika menyampaikan Islam kepada generasi milenial. Karyanya yang berjudul Beyond the Inspiration dan Muhammad Al-Fatih 1453 merupakan bukti dari hasil pengamatannya terhadap kaum milenial yang condong suka terhadap kata-kata motivasi dan story telling.[7]


Penyampaian yang dilakukan Felix Siauw dalam bukunya tersebut tentu berbeda dengan apa yang ia dapatkan dari gurunya. Karena di masanya, tata cara penyampain keislaman cenderung disampaikan lewat narasi keagamaan. Perbedaan ini didasari oleh minat yang dimiliki pada generasi tersebut. Melihat usaha dari beliau sepatutnya generasi milenial juga dapat mencontohnya, agar masukan terhadap Gen-Z dapat diterima dengan baik.


Tidak hanya itu, kesuksesan penyampaian dalam pendidikan juga menuntut agar tenaga pengajar, yaitu generasi milenial, memiliki ilmu yang mendalam atas apa yang ia akan ajarkan. Salah satunya dengan tetap mempelajari ilmu-ilmu yang diwariskan oleh pendahulunya. Kemudian pengetahuan yang telah ia dapat haruslah dipadukan sesuai dengan tuntutan zaman.[8]


Penyampaian yang dilakukan oleh Felix Siauw, dengan memperhatikan objek yang dituju, sejalan dengan ajaran Islam yang diajarkan oleh Sayidina Ali.[9] Penyampaian yang dipaksakan tidak akan membuahkan hasil yang baik, bahkan dapat menjadi sebab dari penolakan. Perhatian terhadap Gen-Z juga dapat menimbulkan rasa hormat kepada generasi milenial. Karena Gen-Z akan merasa dirinya diperlakukan sebagaimana mestinya. Sehingga apapun nasehat yang disampaikan kepadanya akan diterima dengan baik tanpa adanya perlawanan.


Pelestarian terhadap sebuah peradaban dengan menjaga generasi penerus merupakan hal yang wajib dilakukan demi keberlangsungan tatanan hidup yang baik. Adanya perhatian serta kesadaran terhadap keunikan yang dimiliki oleh masing-masing generasi dapat menjauhkan pemikiran negatif di antara kedua belah pihak.


Hubungan antargenerasi pada satu masa dapat menentukan arah sebuah peradaban, di mana keduanya dituntut untuk saling melengkapi dan mengerti peran yang diemban oleh masing-masing generasi. Dalam menjaga kelestarian hubungan sosial, Islam menganjurkan agar generasi pendahulu dapat menjadi guru yang baik dengan mengembangkan potensinya, kemudian menyampaikanya sesuai dengan keadaan. Ketika hal tersebut bisa dijalankan maka sifat saling mengerti antara kedua generasi akan terjalin. Alhasil, perkembangan peradaban dapat menjadi lebih baik.

 

 

Daftar Pustaka

Gazali, Hatim. Islam untuk gen-z: mengajarkan Islam & mendidik muslim generasi z; panduan bagi guru PAI. Jakarta: Wahid Foundation, 2019.

Hamdi Zaqzuq, Mahmud. Al-Fikr Al-Dini. Kairo: Majlis Hukama’, 2020.

Hasan, Noorhaidi dan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Press, ed. Literatur keislaman generasi milenial: transmisi, apropirasi, dan kontestasi. Cetakan I. Yogyakarta: Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Press, 2018.

Jum’ah, Ali. Wa Qalal Imam. Kairo: al-Wabi al-Shoib, 2010.

Juniarti, Jessica Eka. “Persepsi Milenial terhadap Stereotipe Gen Z.” Dipresentasikan pada Prosiding Seminar Nasioanal, Universitas Negeri Surabaya, 2023.

Saliman, Taufiq bin Ahmad. Nadzarat fi Tarikh al-Sunnah. Kairo: jamiat al-Azhar, Qita’ Usul al-Din Qism al-Hadith wa Ulumuh, 2021.

Yusuf, Chorul Fuad. Literasi Keagamaan Generasi MIlenial: Tantangan Masa Depan Bangsa. Jakarta: LIPI Press, 2021.



[1] Hatim Gazali, Islam untuk gen-z: mengajarkan Islam & mendidik muslim generasi z; panduan bagi guru PAI, 3.

[2] Gazali, 4.

[3] Jessica Eka Juniarti, “Persepsi Milenial terhadap Stereotipe Gen Z”, 106.

[4] Seorang Direktur Studi di Pusat Ekumenis untuk Iman dan Masyarakat Universitas Fribourg, Swiss.

[5] Chorul Fuad Yusuf, Literasi Keagamaan Generasi MIlenial: Tantangan Masa Depan Bangsa, 7.

[6] Mahmud Hamdi Zaqzuq, Al-Fikr Al-Dini, 13.

[7] Noorhaidi Hasan dan Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Press, ed., Literatur keislaman generasi milenial: transmisi, apropirasi, dan kontestasi, Cetakan I, 107.

[8] Ali Jum’ah, Wa Qalal Imam, 326.

[9] Taufiq bin Ahmad Saliman, Nadzarat fi Tarikh al-Sunnah, 105.

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai *

Hubungi Kami ?